banner

Gemar Merekam Adegan Seks, Wajar atau Tidak?

Jika teman kencan online terlalu sempurna, waspadalah

Baru-baru ini sebuah video seks yang disebut-sebut mirip artis viral di media sosial. Mulai dari Gisella Anastasia atau Gisel, Jessica Iskandar, hingga Anya Geraldine. Banyak yang lantas penasaran mengapa ada orang yang merekam dirinya saat berhubungan intim. “Buat apa divideoin? Buat kenang-kenangan gitu?” komentar satu pengguna Twitter.

Melihat fenomena ini, pengamat seks dr Boyke Dian Nugraha, SpOG menjelaskan bahwa merekam video intim diri sendiri termasuk dalam penyimpangan seksual atau paraphilia jika orang tersebut senang mempertontonkan video tersebut ke khalayak umum. Mengapa begitu?

“Yang menjadi masalah adalah kalau kegiatan itu menjadi konsumsi umum. Kalau misalnya mereka merekam video untuk mereka berdua saja itu masih boleh,” kata dr Boyke.

“(Termasuk) paraphilia adalah suatu penyimpangan seksual kalau dia senang mempertontonkan diri berhubungan seks, lalu disebarkan, kalau dianya tahu,” lanjutnya.

dr Boyke mengatakan jika orangnya tidak tahu atau menjadi korban, si pengintip atau perekamnya lah yang disebut paraphilia atau golongan voyeurism.

Lalu, kenapa orang tersebut mau merekam kegiatan hubungan seksualnya?

“Mungkin karena dia merasa dirinya cantik atau mungkin seperti exhibisionism. Misalnya si pria merasa ‘punyanya’ lebih besar dari yang lain dan ingin mempertontonkannya,” ujarnya.

Namun, dr Boyke menegaskan bahwa orang-orang yang melakukan hal tersebut memiliki gangguan kepribadian, seperti tidak bisa berkomunikasi dengan lawan jenisnya.

“Tapi yang jelas, yang melakukan hal tersebut memiliki gangguan kepribadian. Dia tidak bisa berkomunikasi dengan lawan jenisnya, dan dia hanya memiliki satu kelebihan. Misalnya payudaranya yang besar dan sebagainya, dan berusaha dipertontonkan agar orang-orang bisa mengakui eksistensinya,” jelas dr Boyke.

Sementara ahli seks Rima Hawkins di London, Inggris menjawab permasalahan tersebut. “Saat berhubungan intim, nafsu dan saling tertarik satu sama lain makin kuat. Emosi dan kepercayaan yang terjalin membuat pasangan lebih dekat. Pada titik ini, sulit memisahkan antara perasaan dan proses seksual dalam hubungan intim,” kata Rima.

Melansir laman Desiblitz, seseorang bisa memberikan persetujuan mudah untuk mengambil rekaman aktivitas seksual atas dasar kepercayaan dan kesenangan bercinta.

Persetujuan untuk merekam aktivitas seksual menjadi sumber kecemasan bila suatu hari, rekaman yang bersifat pribadi tersebar menjadi konsumsi publik.

Bahkan terkadang orang yang mengambil rekaman aktivitas seksual hanya untuk bersenang-senang atau mengenang keindahan bercinta dengan pasangan.

“Kalau pasangan menggunakan rekaman aktivitas seksual untuk kebaikan, mereka menggunakannya sebagai perangsang gairah seksual. Kuncinya, persetujuan merekam harus dilakukan orang yang berusia 16 tahun ke atas,” jelas Rima.

Artikel Terkait:

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam