banner

Mungkinkah Hamil Meski Menggunakan Alat Kontrasepsi?

  1. Efektifitas Alat Kontrasepsi
    1. 1. Metode hormonal
    2. 2. Intraunterine Device (IUD)
    3. 3. Metode penghalang
  2. Jika Pasangan Anda Alami Ejakulasi Dini
    1. Kapan Dianggap Terlalu Cepat?
  3. Ejakulasi Dini Bukan Berarti Mandul
  4. Pengobatan Ejakulasi Dini
    1. Perbanyak asupan mineral
    2. Melakukan teknik berhenti sebentar-remas (pause-squueze)
    3. Teknik berhenti-mulai (stop-start)
    4. Latihan dasar panggul dengan teknik kegel
    5. Gunakan kondom yang lebih tebal
    6. Onani
    7. Hindari berhubungan seks selama beberapa waktu
    8. Mengonsumsi obat disfungsi ereksi
  5. Solusi Jika Dorongan Seksual Wanita Lebih Tinggi
    1. 1. Komunikasikan
    2. 2. Jangan baper jika pasangan menolak
    3. 3. Dorongan seksual yang rendah bisa juga disebabkan oleh masalah hormonal
  6. Artikel Terkait:

Mungkinkah Hamil Meski Mengginakan Alat Kontrasepsi?

Ada banyak jenis alat kontrasepsi yang tersedia. Namun, satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah kehamilan tentunya hanya dengan tidak berhubungan seksual atau bercinta. Ya, semua alat kontrasepsi memiliki peluang untuk mengalami kegagalan. Jadi, jika alat kontrasepsi gagal, maka ada kemungkinan seorang wanita akan hamil.

Efektifitas Alat Kontrasepsi

Efektifitas Alat Kontrasepsi

Tidak semua metode KB atau alat kontrasepsi sama efektifnya, artinya beberapa memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Nah, berikut ini beberapa alasan yang mungkin bisa menjadi faktor penyebab kegagalan alat kontrasepsi.

1. Metode hormonal

Alat kontrasepsi dengan metode hormonal sebenarnya memiliki tingkat keefektivan hingga 91%. Metode alat kontrasepsi ini bekerja dengan melepaskan salah satu bentuk progesteron sintetis yang disebut progestin atau campuran progestin dan estrogen sintetis. Secara lebih jelas, alat kontrasepsi metode hormonal bekerja untuk mencegah kehamilan dengan cara sebagai berikut:

  • Menghentikan ovulasi.
  • Menipiskan lapisan rahim yang menyulitkan embrio untuk ditanamkan.
  • Penebalan lendir serviks sehingga menyulitkan sperma untuk masuk ke dalam rahim.
    Kegagalan alat kontrasepsi hormonal bisa disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:
  • Tidak meminum pil, tidak mendapat dosis suntikan berikutnya, atau tidak mengganti koyo KB tepat waktu.
  • Mengonsumsi antibiotik.

2. Intraunterine Device (IUD)

IUD adalah alat berbentuk T yang dimasukkan oleh dokter ke dasar rahim. IUD hormonal akan mengeluarkan hormon untuk mencegah kehamilan, sedangkan IUD tembaga akan mengubah cara sperma berenang. Kedua jenis IUD ini juga bekerja dengan menghalangi sperma memasuki rahim.

Menurut Association of Reproductive Health Professionals (ARHP), IUD hormonal lebih dari 99% efektif hingga 3 atau 5 tahun, tergantung mereknya. ARHP juga menyatakan bahwa IUD tembaga lebih dari 99% efektif hingga 12 tahun.

IUD hormonal membutuhkan waktu hingga seminggu untuk mulai melepaskan hormon, sehingga kemungkinan besar kegagalan alat dan peluang terjadinya kehamilan apabila ada hubungan seksual, bisa terjadi selama minggu pertama setelah pemasangan.

Selain itu, IUD hormonal dan tembaga juga dapat tergeser dan terlepas dari serviks, sehingga dalam beberapa kasus, kehamilan bisa terjadi.

3. Metode penghalang

Metode penghalang untuk mencegah kehamilan bekerja secara fisik dengan menghalangi sperma untuk mencapai sel telur. Metode ini meliputi:

  • Kondom pria
  • Kondom wanita
  • Diafragma
  • Spermisida

Efektifitas metode penghalang bervariasi. Menurut CDC, metode penghalang efektif 12-28% dalam mencegah kehamilan. Diafragma dan kondom pria adalah yang paling efektif dari metode ini, sedangkan spermisida paling kecil kemungkinannya untuk mencegah kehamilan.

Metode penghalang biasanya gagal karena kesalahan pengguna. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin tidak menggunakan alat kontrasepsi metode penghalang cukup dini, sehinga memungkinkan sperma masuk ke vagina.

Kedua jenis kondom juga rawan pecah atau robek, dan diafragma kadang bisa lepas dari tempatnya. Apabila hal ini terjadi, maka ada kemungkinan sperma masuk dan mencapai sel telur.

Jika Pasangan Anda Alami Ejakulasi Dini

Jika Pasangan Anda Alami Ejakulasi Dini

Kapan Dianggap Terlalu Cepat?

Sebuah studi yang mengamati 500 pasangan dari 5 negara berbeda, menemukan rata-rata waktu yang dibutuhkan pria untuk ejakulasi selama hubungan seksual adalah sekitar 5,5 menit. Ukuran waktu tersebut tentu tak bisa dijadikan patokan pasti. Dan, baik posisi, durasi, hingga lokasi juga bisa memengaruhi.

Walau durasi adalah hal yang relatif, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penilaian apakah ejakulasi terlalu dini atau normal, antara lain:

  • Selalu atau hampir selalu ejakulasi 1 menit setelah penetrasi.
  • Tidak dapat menunda ejakulasi selama hubungan intim sepanjang waktu atau hampir sepanjang waktu.
  • Merasa tertekan dan frustrasi, lalu cenderung menghindari keintiman seksual sebagai efeknya.

Nah, dari situ bisa dibedakan 2 jenis ejakulasi dini, yaitu:

  • Ejakulasi dini primer, yang terjadi dalam waktu lama, bahkan sejak pertama kali berhubungan seksual. Jika tidak ditangani, ini dapat terjadi berkepanjangan.
  • Ejakulasi dini sekunder. Artinya, biasanya tidak pernah bermasalah dengan ejakulasi, tetapi beberapa kali atau dalam kondisi tertentu mengalami masalah “keluar” terlalu cepat. Jenis ini adalah keluhan seksual yang umum dan dialami oleh 1 dari 3 pria pada rentang usia 18-59 tahun dalam suatu waktu tertentu. Kondisinya bisa timbul secara bertahap atau bisa terjadi secara tiba-tiba.

Penyebab ejakulasi dini cukup bervariasi, yakni:

  • Merasa tidak puas dengan tubuh sendiri atau kurang menghargai diri sendiri.
  • Depresi atau stres.
  • Riwayat pelecehan seksual, baik sebagai pelaku, korban, atau penyintas.
  • Terlalu khawatir akan pengalaman seksual yang terbatas, ereksi, atau akan mengalami ejakulasi terlalu dini.
  • Peradangan pada prostat atau uretra.
  • Kadar hormon tertentu, misalnya testosteron, tidak normal.
  • Disfungsi ereksi.
  • Kebutuhan rangsangan seksual yang lebih intens untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi.
  • Menderita penyakit metabolik, seperti diabetes atau hipertensi.
  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Ejakulasi Dini Bukan Berarti Mandul

Ejakulasi Dini Bukan Berarti Mandul

Ejakulasi dini mungkin sulit untuk dibicarakan, bahkan pada pasangan sendiri. Jika kondisi ini terjadi hubungan anda, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tak perlu khawatir karena ini sangat umum dialami oleh pria dan dapat terjadi di semua usia. Bahkan, isu ini lebih umum terjadi saat pria masih muda. Pasalnya, ejakulasi biasanya membutuhkan waktu lebih lama seiring bertambahnya usia.

Bagaimana dengan kesuburan? Kabar baiknya, selama ejakulasi dini jarang terjadi, maka Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Lain cerita jika hal ini terjadi berulang kali, ejakulasi dini secara langsung dapat menyebabkan infertilitas. Soalnya, kasus ejakulasi dini sering terjadi bersamaan pada sekitar sepertiga pasien disfungsi ereksi (impoten).

Selain itu, ejakulasi dini akibat hasrat seksual yang rendah bisa jadi merupakan konsekuensi dari kegagalan testis untuk memproduksi hormon testosteron, sperma, atau keduanya (hipogonadisme), yang menyebabkan penurunan kualitas air mani.

Jika ejakulasi dini berlangsung kronis dan membuat frustrasi, bukan tak mungkin dapat menyebabkan hasrat seksual rendah pada pria dan wanita, mengakibatkan penurunan frekuensi berhubungan intim atau bercinta, dan akibatnya infertilitas.

Pengobatan Ejakulasi Dini

Pengobatan Ejakulasi Dini

Walau bukan kondisi yang mengancam kesehatan, ejakulasi dini tentu berdampak besar pada kepuasan seksual pasangan, yang nantinya berefek pada kualitas hubungan yang anda jalani . Untuk itu, ada beberapa cara alami non-obat yang bisa Anda sarankan untuk pasangan jika mengalami kondisi ini, seperti :

Perbanyak asupan mineral

Zat gizi, seperti seng dan magnesium, berperan besar untuk kesehatan organ reproduksi, termasuk untuk mengatasi ejakulasi dini. Kedua nutrisi ini banyak terkandung dalam tiram, daging sapi, yoghurt, serta bayam.

Melakukan teknik berhenti sebentar-remas (pause-squueze)

Teknik ini dapat membantu mengatasi ejakulasi dini dengan membiarkan gairah berkurang sebelum mencapai klimaks. Saat suami merasa siap untuk ejakulasi, berhentilah, dan tekan ujung penis selama 10-15 detik hingga tidak ingin mencapai klimaks lagi. Tunggu sekitar 30 detik untuk menunggu ereksi berhenti. Setelah itu, Anda dan pasangan bisa mencoba kembali berhubungan seks.

Teknik berhenti-mulai (stop-start)

Sedikit mirip dengan teknik pause squeeze, metode stop-start dilakukan untuk menunda klimaks dengan menarik penis keluar dari vagina. Saat pasangan merasakan dorongan untuk berejakulasi, hentikan aktivitas bercinta sepenuhnya. Setelah ia merasa kurang terangsang, perlahan-lahan mulailah melakukan aktivitas bercinta lagi. Ulangi proses ini sebanyak yang diperlukan untuk membantu Anda mengontrol ejakulasi.

Latihan dasar panggul dengan teknik kegel

Kontraksikan otot dasar panggul seperti ketika menahan buang air kecil dan besar. Lakukan selama 3 detik sambil berbaring atau duduk, lalu rileks selama 3 detik. Lakukan ini setidaknya 10 kali berturut-turut setidaknya 3 kali sehari. Ingat, jangan lupa bernapas saat melakukannya dan fokuskan kontraksi hanya pada otot dasar panggul. Jangan mengencangkan perut, paha, atau bokong saat melakukan kegel.

Gunakan kondom yang lebih tebal

Pilihlah varian kondom dengan bahan lateks yang lebih tebal untuk menurunkan sensitivitas dan mencegah ejakulasi lebih awal.

Onani

Masturbasi 1-2 jam sebelum melakukan aktivitas seksual dapat membantu menunda ejakulasi selama penetrasi. Pelepasan seksual ini akan mengurangi kebutuhan pasangan anda untuk mencapai klimaks dengan cepat.

Hindari berhubungan seks selama beberapa waktu

Dengan menghindari berhubungan seksual untuk beberapa saat dapat membantu menghilangkan tekanan pada pasangan anda. Dan perlu diketahui, penetrasi bukan satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan seksual. Jadi, carilah cara lain agar Anda dan pasangan anda bisa merasakan kesenangan yang tidak akan membuat keduanya tertekan atau frustrasi.

Mengonsumsi obat disfungsi ereksi

Jika disfungsi ereksi adalah faktor penyebab dari ejakulasi dini, bicarakanlah dengan dokter terkait pengobatannya, apakah perlu mengonsumsi tadalafil (Cialis) dan sildenafil (Viagra). Keduanya dapat membantu pasangan anda mempertahankan ereksi, yang dapat menyebabkan ejakulasi tertunda.

Terlepas dari cara apa yang dicoba, tak perlu malu untuk mengonsultasikannya kepada dokter spesialis urologi jika ejakulasi dini memengaruhi kehidupan seks anda dan pasangan anda. Toh, langkah ini adalah untuk memperbaiki kehidupan seksual anda dan pasangan anda yang sedang menurun.

Akan tetapi jika wanita mempunyai hasrat seksual dengan dorongan yang lebih tinggi dari anda, maka kami mempunyai cara untuk menanganinya.

Solusi Jika Dorongan Seksual Wanita Lebih Tinggi

Solusi Jika Dorongan Seksual Wanita Lebih Tinggi

Dorongan seksual pria seringkali dianggap lebih tinggi dibanding wanita. Ya, anggapan ini mungkin masih sangat umum bagi sebagian orang. Meski begitu, hal ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, dorongan seksual yang tinggi sebenarnya tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Siapapun bisa memiliki dorongan seksual yang tinggi.

Termasuk para wanita. Lalu, bagaimana ya jika sebagai wanita anda memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi dibanding dirimu. Tak perlu khawatir, berikut ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk menyikapinya.

1. Komunikasikan

Pembunuh terbesar suatu hubungan adalah tidak saling terbuka jika menemui masalah dan membiarkannya mengendap begitu saja. Daripasa hanya menebak-nebak alasan pasangan yang menolak berhubungan seksual, lebih baik ceritakan apa keinginanmu, termasuk hasrat seksualmu yang sedang tinggi.

Tak jarang, alasan pasangan menolak berhubungan seksual membuatmu kesal. Oleh karena itu, jangan memendamnya, ungkapkan juga rasa kecewamu dengan cara yang bijak tanpa saling menyalahkan atau menuduh.

Di sisi lain, jangan lupakan juga kondisi pasangan saat itu. Hubungan seksual tidak akan berjalan dengan baik jika salah satu pihak saja yang berperan, melainkan harus keduanya. Oleh karenanya, dengarkan juga pendapat pasangan. Tanyakan padanya mengapa ia tidak ingin melakukan hubungan seksual atau mengapa dorongan seksualnya menjadi rendah. Bisa jadi kondisi tersebut disebabkan oleh rasa lelah, stres, atau konsumsi obat tertentu.

2. Jangan baper jika pasangan menolak

Pahami bahwa setiap orang memiliki harapan yang berbeda. Sama halnya dengan dirimu yang ingin dimengerti ketika memiliki hasrat seksual yang tinggi, begitu pula dengan pasanganmu. Jadi, cobalah untuk tidak selalu mengedepankan ego pribadi.

Libido yang rendah dari pasangan tidak berhubungan dengan ketertarikannya pada dirimu. Hormon dan kepribadian tiap orang berbeda. Beberapa orang merasa perlu mengalami orgasme 5-10 kali dalam seminggu, sedangkan beberapa lainnya merasa baik-baik saja meski hanya mengalami orgasme 1 kali dalam seminggu.

3. Dorongan seksual yang rendah bisa juga disebabkan oleh masalah hormonal

Kebanyakan wanita berpikir bahwa libido yang rendah dari pasangannya merupakan cerminan dari tidak adanya ketertarikan pada diri mereka. Nyatanya, libido pria sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal, seperti kadar testosteron.

Ketika seorang pria memiliki kadar testosteron rendah, sangat masuk akal jika dorongan seksualnya juga akan rendah. Selain itu, menurut sebuah penelitian tahun 2014, pria yang mengalami obesitas juga memilki kemungkinan lebih besar mengalami penurunan testosteron. Hormon testosteron juga akan semakin berkurang seiring pertambahan usia.

Beberapa jenis obat juga dapat menurunkan hasrat seksual seorang pria, seperti antidepresan dan obat-obatan untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan diabetes juga dapat menyebabkan gairah seks pasangan pria menurun.

Memiliki dorongan seksual yang tinggi seringkali membuat seseorang merasa terganggu, terlebih jika tidak diimbangi dengan dorongan seksual dari pasangan. Namun, bukan berarti hal ini menjadi masalah dalam hubunganmu. Komunikasikan apa yang menjadi harapanmu terhadap pasangan dan temukan solusinya bersama. Jika memang dorongan seksual yang rendah disebabkan oleh adanya masalah hormonal, segeralah hubungi tenaga medis untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Dari artikel diatas kita mengetahui apabila bercinta menggunakan alat kontrasepsi tidak ada yang menjamin mencegah kehamilan 100% dan juga jika pasangan anda mempunyai masalah ejakulasi dini segeralah bertemu tenaga medis untuk penangan yang tepat.

Artikel Terkait:

Seputar informasi dan artikel tentang kehidupan malam ada di Dunia Malam